// //
Sukses Tak Harus Pendidikan Tinggi

Merasa berpendidikan rendah sempat membuat Ujang Wisesa rendah diri. Namun berkat ketekunan belajar dan kegigihan berusaha, kini ia menjadi salah satu leader NASA yang handal.


“Sedari awal pemalunya luar biasa,” tegas Ujang. Sifat ini bukannya tanpa alasan. “Saya sangat minder sekali karena merasa tidak berpendidikan, nanti kalo ngobrol sama anak sekolahan gimana, bisa tidak, ahirnya saya milih minder,” kata pria yang hanya menem­puh pendidikan formal hingga kelas 5 Sekolah Dasar.
“Pak Warno (Suwarno HS) selalu menyarankan terus membaca buku wa-lauwpun itu koran bekas,” kata Ujang. Dari arahan tersebut ia terus membaca buku sebanyak-banyaknya. Terutama buku-buku ispiratif dan meningkatkan kepercayaan dirinya.
“Jangan pernah takut ketemu orang,” Ujang menirukan nasihat Suwarno HS. Nasihat itulah yang selalu teringat di benaknya hingga saat ini.
Dengan belajar melalui buku dan bimbingan Suwarno HS, pria yang pernah menjadi tukang becak ini mengalami kemajuan berarti. “Dipelajari alhamdulillah setelah kenal NASA ahirnya saya mendapatkan sesuatu, bukan hanya materi tetapi pengetahuan pendidikan juga diajari untuk menunjukan keberanian,” ungkap ujang dengan semangat.
Ujang bukanlah kacang yang lupa akan kulitnya. “Alhamdulillah saya bisa seperti sekarang bukan karena saya pribadi tapi bimbingan pak Warno, dan teman-teman atas kerjasama,” ungkap­nya merendah.
“Jujur awalnya saya tidak bisa apa-apa tidak bisa bicara, sampai saat inipun presentasi saya masih grogi,” katanya kembali merendah. “Tapi alhamdulilah kalo pak Warno tidak ada saya yang nyuluh,” lanjutnya menunjukan kemajuan yang sangat pesat pada dirinya.
Dengan kerendahan hatinya ia selalu bersyukur kepada Yang Maha Kuasa. “Yang saya dapatkan sekarang bukan hasil jerih payah dan ilmu pengetahuan saya, tapi suatu keajaiban dari Tuhan,” ungkap pria murah senyum ini.


Masa Lalu Yang Suram
Mendengar cerita sedih perjalanan hidupnya tak akan ada habisnya. Berta­hun-tahun perjalanan hidup seolah tanpa kisah manis, sedih tak berujung.
Kisah itu dimulai ketika ia duduk di kelas 5 Sekolah Dasar. “Waktu itu pas ujian saya sakit, tidak naik kelas,” kenang Ujang. Setelah itu keluarganya mendap­atkan musibah. “Bapak saya sakit jatuh dari pohon kelapa,” ungkapnya berkaca-kaca. “Akhirnya saya memutuskan untuk bantu orang tua karena saya anak yang paling besar,” Ujang bertanggungjawab.
Kegiatanya dilakukan untuk mem­bantu ayahnya. “Nyari rumput buat pak­an sapi, berjalan lebih dari 10 km pulang pergi,” kata Ujang. Ini dilakukan tiap hari untuk memastikan ternaknya mendap­atkan makan yang cukup. Pekerjaanya bukan hanya itu. ”Pernah narik becak umur 11 tahun, kegiatan itu satu tahun,” ungkap Ujang. Ini dilakukan bergantian dengan ayahnya.
Setelah itu ia mencoba mencari pe­runtungan di Ibukota. Ia berfikir di Jakarta mungkin bisa mendapatkan pendapatan yang lebih layak untuk keluarga.
“Saya sangat ingat di Jakarta bawa cangkul sama pengki,” ungkapnya sambil senyum masam. “Mikul semen dan pasir ke lantai 4 alhamdulilah sampai saat ini belum dibayar, itu yang mengerikan,” ceritanya dengan mimik sedih.
Perjalanan hidup selanjutnya ia ha­biskan untuk pulang dan kembali ke Ja­karta beberapa kali. Semua usahanya baik di desa maupun di kota selalu men­galami kegagalan.


Menatap masa depan gemilang

Pulang dari perantauan seperti ser­dadu kalah perang. Tanpa hasil dan modal yang berarti untuk kebutuhan ke­luarga.
“Setelah pulang ketemu pak Warno, padahal jarang ketemu juga, tidak kenal hanya tahu,” kata Ujang. Dari Suwarno HS dikenalkan NASA. “Dan karena saya dulu saking tidak punya modalnya, daf-tarpun saya kredit, daftarpun setelah saya menjualkan produk, jual produk dulu baru daftar,” ceritanya sambil senyum.
“Jadi istilahnya di NASA ini tidak kelu­ar modal serupiahpun, pinjem barang ke pak Warno saya jual, keuntungan saya buat daftar,” kata pria kelahiran Brebes.
Pertemuan dengan NASA menjadi titik balik kehidupannya. “Alhamdulillah dengan pembinaan pak warno luar bia­sa, target komitmen dengan pak warno, kalo satu tahun tidak penghasilan Rp. 1 juta di NASA nanti kita tinggalkan saja,” ungkapnya dengan semangat. “Alham­dulillah waktu itu bulan ke sebelas posisi gold manager perasaan cepat banget, padahal saya tidak bisa apa-apa, al­hamdulillah pada waktu itun penghasiln sudah 1,5 juta,” bangga Ujang tak henti-henti mengucap kata syukur.
“Cuman saya mengaku terlena,” kata Ujang. Cobaan kembali datang. Dimulai dengan habis modal untuk hajatan khitan anaknya. Hingga berbagai cibiran dari masyarakat sekitar.
Dari berbagai cobaan dan cemoohan itu, justeru menjadi motifasi baginya un­tuk terus bangkit. “Alhamdulilah keajai­ban lagi, waktu itu bonus Rp. 1,6 juta bu­lan berikutnya naik Rp. 3,5 juta, ahirnya muncul keyakinan saya jalani sampai sekarang,” ungkapnya riang.
Kerja kerasnya terus berbuah. “Al­hamdulillah juga saat ini medapatkan sesuatu yang luar biasa, saya malu sekaligus bangga,” ungkapnya tetap merendah. “Malu karena yang mendap­atka reward cuma satu, bangganya saya pearl manager yang berprestasi,” tanpa menyombongkan apa yang telah dicapai hingga saat ini.

2012-02-13
INDEX MEDIA