// //
Mimpi itu terwujud dari sebuah “Mimpi” Kenyang mimpi dan Janji Manis MLM

Latar belakang ekonomi yang kurang sejahtera serta pendidikan rendah, na­mun keinginan mengubah nasib sangat besar. “Akhirnya bisnis MLM menjadi pili­han kami sekeluarga,” ungkap Ayi.
Tahun 1999 ia dikenalkan oleh se­orang sahabat dengan sebuah MLM. Dengan modal 160.000,00 yang ia da­patkan dari hasil bekerja menjadi buruh tani dan menjual perhiasan 1gr emas milik ibunya. Proses layaknya memban­gun bisnis jaringan ia lakukan. Menjual produk dari pintu ke pintu, mengundang orang dan menghadiri berbagai per­temuan dari tingkat kampong hingga luar propinsi untuk presentasi merupakan pekerjaan sehari-hari. Setelah berjuang selama 5 tahun ahirnya impian-impian itu kandas seiring hancurnya bisnis itu.
Setelah itu ia bergabung dengan MLM lain. Merasa memiliki pengalaman panjang ia memiliki keyakinan untuk sukses di percobaan kedua ini. Selama satu tahun hingga 2005 ia terus beru­saha membangun kembali jaringan den­gan bisnis barunya ini. Namun apa boleh buat, bisnis itu hancur lagi. “Hancur kar­ena sikap dan perilaku yang tidak ber­tanggung jawab atau sikap dan perilaku negative tipu muslihat, kebohongan dan sebagainya,” kata Ayi.
Dengan kegagalan yang kedua ternyata ia tidak patah semangat. Ia ke­mudian bergabung lagi dengan sebuah perusahaan MLM dari luar negeri. Mung­kin dengan pengalaman yang cukup bis­nisnya sukses dengan cepat. “Beberapa bulan saja yaitu 3 bulan saya bangun jaringan penghasilan saya langsung be­sar dibandingkan yang pertama,” ungkap Ayi.
Namun kecurangan dan ketidakju­juran kembali terjadi. “Leader kami pada saat itu menjual dan mempermainkan jaringan dan membuat sistem di luar sistem,” kata Ayi. Akhirnya ia terlilit hu­tang yang cukup banyak. sampai sam­pai rumah dan tanah milik orang tuanya dijual untuk menutup semua hutangnya. Akibatnya hilang kepercayaan dari ke­luarga, orang tua, teman dan tetangga. “Pokoknya seperti kiamat bagi kami sekeluarga,” menggambarkan betapa hancurnya pada saat itu.
Dengan berat hati akhir tahun 2005 merantau ke Cianjur meninggalkan is­teri yang sedang hamil anak keduanya. Ia kembali menjadi buruh tani dengan penghasilan yang sangat kecil Rp. 7.500/ hari. Untuk bertahan sehari-hari saja sulit apalagi menafkahi anak isteri.
Kegagalan kembali didapatkanya. Ia putuskan pulang ke Bandung hanya dengan membawa uang Rp. 27.000,00. Padahal saat itu ongkos pulang saja Rp. 50.000,00. Pulang dengan mencari tumpangan gratis, ikut truk dan jalan kaki. Selama perjalanan ia ratapi nasibnya se­lama ini yang tak kunjung membaik.
Sudah jatuh tertimpa tangga, sesam­painya di rumah jam 03.00, didapatinya isteri dan anak sedang sakit. Ditambah lagi tanggungan hutang untuk berobat keduanya. “Ditunggui ibu saya yang se­dang menangis dan saya dapat sambu­tan dan pelukan tangis kepedihan ibu dan isteri, lengkaplah sudah penderitaan yang kami sekeluarga alami,” ceritanya dengan penuh haru

Mimpi menjadi nyata dengan NASA
Dengan kesedihan yang mendalam, pagi itu juga ia putuskan pergi ke masjid untuk sembahyang dan berdoa untuk menenangkan hati dan pikiran. Di saat itulah ia tertidur dan bermimpi untuk masuk NASA. “Pada saat saya tertidur saya bermimpi bertemu sesosok tua ber­baju dan berjenggot putih,” begitu cerita Ayi Dasep Hermawan. Sosok tersebut kemudian berkata. “Pagi-pagi kamu akan kedatangan seseorang yang menawar­kan bisnis MLM (Multi Level Marketing) dan kamu harus menerima dan mengi­kutinya.” Setelah itu adzan subuh mem­bangunkan dari tidurnya di masjid.
Ternyata mimpi sebelum subuh itu bukanlah bunga tidur biasa. “Pagi-pagi sekitar pukul 08.00 pagi saat di depan rumah datanglah seseorang yang per­sis seperti dalam mimpi tadi subuh dan menginformasikan bisnis MLM yaitu NASA,” katanya mengingat saat itu. Tanpa pikir panjang dengan penuh keya­kinan ia langsung mengambil keputusan bergabung dengan NASA. Ia mengang­gap inilah jalan yang benar yang bisa mewujudkan semua impiannya.
Namun ketika membicarakan hal ini kepada isterinya langsung mendapatkan penolakan. Isterinya berkaca pada kega­galan selama ini membangun jaringan dengan berbagai macam MLM dan be­rahir dengan kegagalan. “Apa lagi pak, kok mau ke MLM lagi padahal kita su­dah banyak berkorban dan trauma, ma­mah sudah bosan dengan harapan dan angan-angan sudah tidak sanggup lagi, pokoknya kapok dan jangan lagi!” Ayi menirukan isterinya.
Setelah melalui proses negosiasi yang a lot ahirnya keputusan bergabung dengan NASA diterima dengan syarat. “Kalau dalam tempo waktu tiga bulan tidak dapat bonus Rp. 1.000.000,00 har­us berhenti dan jangan dilanjutkan,” kata distributor yang bergabung pada Januari 2006.
Perjuangan menuju kesuksesan baru dimulai. Karena kesulitan keuan­gan ia tidak bisa langsung bergabung. Dalam waktu 3 hari menjadi kuli pikul sayuran didapatkan uang sebesar Rp. 80.000,00. “Rp. 30.000, saya pakai daf­tar NASA dan Rp. 50.000,00 diberikan ke isteri,” ungkap Ayi. Tanpa kendaraan dan peralatan lengkap ia tetap berkeliling mengembangkan jaringan. “Berawal dari jalan kaki nenteng kantong plastic bawa produk dan buku pedoman dari kampung ke kampung dari petani ke petani dengan peralatan seadanya dan semampu yang bisa kami beli dari perusahaan yaitu VCD kesaksian dan buku,” cerita Ayi.
Perjalanan membangun bisnis tak luput dari ujian dan cobaan. Kecelakaan yang mengharuskan istirahat selama 7 bulan akibat tangan dan kaki patah per­nah dialami. Jaringan yang pindah ke MLM lain juga kerap terjadi. Belum lagi jatuh bangun omset pada jaringannya menjadi makanan sehari-hari. Mengh­adapinya ia tetap sabar dan semangat. Dengan penuh perjuangan keperluan bekerja seperti kendaraan dan laptop se­bagai sarana presentasi terpenuhi.
Proses perjuangan yang dilewati den­gan semangat mulai dirasakan manfaat­nya. “Selama menjalankan bisnis NASA kebahagiaan, kesenangan, kepuasan. Menikmati proses perjalanan dengan penuh rasa syukur dan keikhlasan dan pada saat ini satu demi satu walaupun lambat impian kami mulai kami dapatkan dengan seijin Allah SWT juga kepedu­lian dan kerjasama yang sangat sinergi dari PT. NATURAL NUSANTARA kepada kami sekeluarga,” ungkap Ayi dengan rasa haru.

2012-02-13
INDEX MEDIA