Membangun Jaringan Tanpa Melakukan Penawaran Omong Kosong

“Bisnis itu intinya penawaran. Kalau tidak ada penawaan tidak terjadi bisnis. Jadi intinya sebagus apapun produk kalau tidak ada proses penawaran kan tidak ada bisnis, itu prinsipnya.” pembuka diskusi Bo­naventura Ardi Nugroho dengan NASA Magz.


Bagi Ardi, penawaran merupakan proses promosi untuk memberita­hukan pelanggan dan membuat brand image. Meluasnya media social network dijadikan sebagai peluang bis­nis untuk melakukan penawaran produk NASA. “Sekarang itu kan penawaran bisa online atau offline, itu semua bisa dilakukan dalam rangka penawaran.” terang ayah tiga anak tersebut.


Masing-masing strategi memiliki kelebihan dan kelamahan. “Kalau dunia maya kelebihannya adalah kecepatanya. Kelemahannya adalah tidak ada hubun­gan personal, hubungan personalnya kurang intensif.” jelas laki-laki berumur 43 tahun tersebut. “Kalau bertemu se-perti ini kan emosionalnya berjalan dan orang lebih percaya. Tapi soal kecepatan tetap tidak bisa dkalahkan dengan yang offline dan itu memang dilakukan oleh teman-teman di NASA.” ungkap Ardi. Baik dunia maya ataupun tidak, bagi Ardi syarat yang harus dipenuhi untuk men­sukseskan proses penawaran adalah bahasa marketing.


Untuk menambah referensi Ardi pun merekomendasikan buku mengenai teknik marketing. “Saya menganjurkan kepada distributor untuk membaca buku marketing revolution karena teknik mar­keting, bahasa-bahasa yang bisa kita pakai kita terapkan di NASA. Marketing revolution itu diterapkan di NASA, hasil­nya luar biasa.”


“Syarat menjadi distributor NASA adalah kita harus merasakan produknya,” kata bapak 3 orang anak ini. Jika kita merasakan kualitas produk kita pasti akan mempromosikannya kepada orang lain. “Pengalaman dalam menggunakan produk kita, dengan terjadi pengalaman itu dia akan lebih banyak bercerita,” ung­kapnya dengan senyum.


Setelah mendengar cerita dan ter­tarik maka pasti muncul pertanyaan “belinya di mana?” “Kalo sudah bertanya seperti itu, anda kalo tidak punya mental penjualan repot sendiri. Kendala itu bisa diatasi, kerjasama antar jaringan dengan downline saya,” kata Ardi. Pembeli disa­rankan membeli di downline.


Ini memiliki beberapa keuntungan. Dari segi promosi akan semakin meya­kinkan. Orang yang mendapat cerita dari kita menyangka produk itu bukan kita yang menjualnya. Jika tahu bahwa itu adalah produk milik kita tingkat keper­cayaan terhadap pengakuan yang kita ceritakan berkurang. Karena tidak lebih dianggap sebagai promosi biasa. Selain itu, omset masih dalam jaringan kita.


Jika cara seperti ini diterapkan secara massif efeknya luar biasa. “Kalo jaringan kita sudah caranya tau menjual yang te­pat sehing produktivitas tinggi penghasi­lan kita tinggi. Membuat orang produkti, menjual tapi merasa tidak menjual,” Ardi mempertegas.

Ardi juga masih memiliki strategi lain untuk. “Pertama kita main garansi. Tertu­lis seperti sertifikat garansi, ada hitam di atas putih. Ini cuma saya yang pakai, mitra usaha lain nggak pakai.” jelas laki-laki yang lahir di kota Yogyakarta tersebut. Tidak sesuai dengan janji yang diberi­kan, uang kembali.


Strategi tersebut menguntungkan bagi konsumen dan distributor. “Untuk perlindungan konsumen kita, dan bagi mitra usaha dia akan langsung dapat fresh money, dia akan semangat, tidak loyo, dan dia akan rajin menjual.” terang sua­mi Diah Mustikawati tersebut.

Perlu diingat, strategi ini harus diikuti dengan perhitungan yang matang. Tetap­kan harga yang dipastikan tetap untung walaupun terjadi kemungkinan terburuk. Banyak produk yang dikembalikan dan kita kembalikan uangnya namun keun­tungan tetap untung.
“Yang kedua strategi pricing, yaitu model diskon atau hadiah. Kalau hadiah itu main psikologis. Hampir rata-rata 99% pembeli tidak menyadari permainan psikologi marketing seperti ini. Dia akan menjadi pelanggan setia dan tidak mau ditawari produk-produk lain.” tandas Ardi dengan penuh keyakinan.


Ada teknik pemasaran produk yang memainkan dosis pemaka­ian. “Teknik untuk memasarkan produknya NASA salah satunya adalah jangan takut pada dosis kalau itu sifatnya organik, tidak ada efek samping. Semakin tinggi dosisnya semakin ce­pat terbukti dan semakin cepat omset,” katanya dengan percaya diri.


Misalnya dia mencontohkan ke­tika menjual makanan kesehatan untuk pasien suatu penyakit yang dokter di ber­bagai Negara tidak sanggup menangani. Dengan menyarankan memakai produk namun dengan “over dosis”. Hasilnya tidak lama kemudian berangsur mem­baik dan dinyatakan sehat oleh dokter. “Semakin tinggi dosisnya semakin cepat terbukti dan semakin cepat omset,” tan­dasnya.

”Pupuk untuk komoditas yang nilai ekonominya tinggi, jangan takut terhadap dosis,” ungkapnya semakin berapi-api. 

“Pohon yang biasanya menghasilkan 20 butir, jadi 100 butir,” yakin leader yang telah pengalaman di beberapa MLM. Biaya yang dikeluarkan tentunya bukan berarti apa-apa dibandingkan hasil yang didapat.
“Dikasi over dosis hasilnya bisa naik 50 kali lipat dia tidak akan merasa rugi mengeluarkan segitu sehinga duplikasi ke lapangan positif, dan duplikasinya dosis tinggi omsetnya cepat,” kata Ardi.

2012-02-13
INDEX MEDIA