POTENSI BISNIS NASA DIPERKEBUNAN KELAPA SAWIT

Komoditi kelapa sawit tak ubahnya seperti emas  hitam. Jumlah permintaan  yang terus naik sementara penawaran belumlah melimpah. Potensi sawit sebagai sektor agrokomplek jelas tidak bisa disepelekan. Ada tiga tahapan dalam pembangunan perkebunan kelapa sawit yang dapat dijadikan dasar pembahasan mengenai potensi bisnis NASA di perkebunan kelapa sawit, yaitu :

 

1. Potensi Bisnis NASA di Pembibitan Kelapa Sawit

Berdasarkan perhitungan program tanam baru, lahan seluas 5000 Ha akan membutuhkan satu juta bibit kelapa sawit. Maka kebutuhan pupuk NASA dan produk pembasmi hama memerlukan anggaran biaya sebesar 1,8 milyar bahkan lebih.

 

Penjabarannya :

Biaya pembelian POC  : Rp 1400/bibit

Biaya pembelian Supernasa POP : Rp 412,5/bibit

Biaya pembelian Natural Glio : Rp 80/bibit

Biaya pembelian produk NASA untuk 1 tahun : Rp 1892,5/bibit atau RP 1,89 Milyar untuk 1 juta bibit

Inilah nilai omzet yang dihasilkan untuk mendukung usaha pembibitan sawit dengan jumlah bibit sawit sebanyak 1 juta bibit untuk mendukung program tanam baru seluas 5000 Ha.  Tentu saja yang terpenting adalah bagaimana meyakinkan calon konsumen untuk menggunakan produk NASA.

 

2. Potensi Bisnis NASA di awal tanam sebelum produksi

Penggunaan produk NASA sebaiknya dimulai pada saat persiapan tanam awal. Dimulai di media lubang tanam hingga tanaman sawit berusia diatas 30 bulan setelah tanam. Adapun produk NASA yang digunakan meliputi pupuk organik SUPERNASA GRANULE dan PUPUK SUPERNASA serta NATURAL GLIO sebagai pencegah serangan jamur.

Berdasarkan perhitungan analisa biaya, maka total biaya yang diperlukan mulai tahap awal hingga tanaman berusia 30 bulan untuk pembelian produk NASA adalah Rp 7.094.000/Ha. Maka potensi omset produk NASA yang dihasilkan sebesar kurang lebih Rp 7 Milyar / 1000 Ha.

 

3. Potensi Bisnis NASA di Tanaman yang telah Berproduksi.

Salah satu faktor pendukung untuk meningkatkan hasil produksi tanaman kelapa sawit selain tercukupinya unsur hara juga tercapainya keseimbangan unsur hara. Pada umumnya program pemupukan di perkebunan kelapa sawit dilakukan 2 kali/tahun, namun di beberapa tempat ada juga yang melakukan pemupukan 3-4 kali/tahun. Berdasarkan  data  hasil  produksi  beberapa perkebunan  swasta  maupun  perkebunan  rakyat ada perbedaan yang sangat besar antara potensi produksi  dengan  realisasi  produksi,  hal  tersebut kemungkinan   dikarenakan  adanya  pemahaman yang kurang tepat mengenai pemenuhan kebutuhan pupuk untuk tanaman. Pemahaman bahwa sudah cukupnya pemberian pupuk tanpa tambahan pupuk mikro menyebabkan terjadinya ketidakseimbangan unsur  hara  yang dibutuhkan tanaman yang pada akhirnya berakibat kurang sempurnanya pertumbuhan tanaman baik pertumbuhan vegetatif maupun pertumbuhan generatif. Terganggunya pertumbuhan generatif pada tanaman kelapa sawit akan berakibat semakin tidak optimalnya produksi buah yang dihasilkan.

Kenyataan seperti ini menjadi salah satu peluang bagi mitra distirbutor NASA untuk untuk memberikan solusi bagi pemilik perkebunan sekaligus memasarkan produk pupuk organik NASA. Berdasarkan perhitungan analisa biaya kebutuhan pupuk organik NASA / Ha diperlukan pupuk SUPERNASA GRANULE sebanyak 50 kg dan POWER NUTRITION sebanyak 3 kg, atau setara dengan Rp 1,9 juta/Ha per aplikasi. Maka untuk 2 aplikasi / tahun, biaya yang dibutuhkan untuk pembelian pupuk organik NASA adalah Rp 3,8 juta/Ha. Jika luas perkebunan seluas 1000 Ha, maka potensi omzet yang bisa didapatkan adalah Rp 3,8 milyar/tahun.