// //

KONSUMSI KIMPUL ?? KENAPA TIDAK !!

Alam kita menyediakan begitu banyak bahan makanan, terutama sumber karbohidrat selain beras. Sebut saja ganyong, garut, gembili, suweg, uwi, kimpul dan lainnya. Namun makanan tradisional tersebut masih sulit menggantikan beras, meskipun nilai gizinya tidak kalah dari beras.

Bukan karena lagi demam “makanan kampung” atau karena kebetulan beberapa hari  berturut-turut tersedia kimpul sebagai makanan sela di kantor, maka sengaja kami tuliskan kekayaan negeri ini sebagai cadangan karbohidrat istimewa yang kita tak menyadarinya. Jika Sumber karbohidrat utama masyarakat kita berasal dari tanaman padi , jagung, atau sebagian kentang, maka sumber karbohidrat alternative nampaknya perlu kita budidayakan mengingat tanaman ini sangat mudah dibudidayakan dan tidak terlalu membutuhkan  lahan khusus.

Salah satunya kimpul (Xanthosoma Sp) atau dalam istilah Inggris disebut blue taro. Sebagian masyarakat menyebutnya talas kimpul. Kimpul cocok hidup di tanah yang tidak tergenang air. Selain rasanya gurih dan lezat, tanaman berdaun lebar serupa dengan talas ini rendah karbohidrat dan rendah lemak. Dengan demikian rendah pula kandungan glukosanya sehingga cocok bagi penderita diabetes melitus. Berdasarkan penelitian, dengan kandungan gizi yang ada dalam kimpul cocok pula untuk penderita penyakit degeneratif lainnya seperti jantung, osteoporosis dan hipertensi.

Dalam setiap 100 gram kimpul mengandung karbohidrat sebesar 23,7 gr, lebih rendah dibanding beras (78,9 gr), terigu (77,3 gr) dan jagung kuning (63,6 gr). Keunggulan yang lain dari kimpul, mengandung kalsium lebih tinggi (47 mg) dibanding beras (10 mg), terigu (16 mg) dan jagung kuning (9 mg).Dibanding beras, terigu dan jagung kuning, hanya kimpul yang mengandung vitamin C yaitu 4 mg dalam setiap 100 gramnya (sumber pustaka Widowati dan Suyanti, 2002). Harga kimpul lebih murah dibanding beras, singkong ataupun ubi jalar. Sehingga cocok pula untuk makanan pokok alternative.


Kimpul adalah salah satu jenis talas-talasan yang tumbuh pada kondisi (Marinih, 2005) :

• Kandungan humus dan air cukup (tanaman kimpul menghendaki tumbuh ditanah kering dan cukup air tetapi tidak becek atau pada kondisi lembab)

• PH tanah antara 5,5-5,6

• Tumbuh optimal pada ketinggian  250 – 1.100 meter dpl

• Dapat tumbuh diberbagai curah hujan, tapi optimum pada curah hujan rata-rata 1000 mm per tahun

• Suhu optimum pertumbuhan 21-27 drajad Celcius.

Untuk mendapatkan hasil produksi yang tinggi memang dibutuhkan berbagai persyaratan lahan yang baik, namun disini kami menempatkan tanaman kimpul sebagai tanaman alternative untuk cadangan karbohidrat yang bisa ditanam di tanah-tanah pekarangan ataupun sepetak tanah yang tak dimanfaatkan.

Dengan sedikit pengolahan tanah yang standard (saat membuat lubang tanam) dan memberikan pupuk kandang yang cukup (kurang lebih 0,5 kg/ lubang), atau 100 gr supernasa granule, dan kita kocorkan 2 bulan sekali SUPERNASA dan POWER NUTRITION  masing-masing 1 sdm, cukup 3 kali, insyaallah 7-9 bulan kedepan akan kita dapatkan hasil yang lebih baik meskipun hanya kita tanam di lahan yang terbatas.