// //

ANTISIPASI SERANGAN GANODERMA DI LAHAN REPLANTING PERKEBUNAN KELAPA SAWIT

LATAR BELAKANG

Kebutuhan utama bagi pertumbuhan tanaman yang sehat dan produktif,adalah ketersedian unsur hara yang dibutuhkan oleh tanaman, ketersedian air dan kondisi lingkungan sekitar yang mendukung tumbuh dan berkembangnya tanaman secara sehat dan pada akhirnya dapat memberikan hasil produksi yang terbaik. Keseluruhan faktor diatas saling berkaitan satu sama lain. Sebaliknya dampak kekurangan salah satu faktor akan berpengaruh  bagi tanaman  dan  berakibat jangka panjang bagi semua jenis tanaman, terutama bagi tanaman perkebunan.

Salah satu kegiatan terpenting dalam usaha dibidang Perkebunan Kelapa Sawit adalah kegiatan Pengendalian Hama Penyakit. Pengendalian Hama Penyakit adalah mengendalikan pertumbuhan hama penyakit, yang dalam tulisan ini menitik beratkan terhadap penyakit yang disebabkan oleh jamur , terutama oleh jamur Ganoderma yang tumbuh di areal tanaman yang diusahakan. Sebagai seorang planters harus mengetahui dan paham mengenai faktor-faktor apa saja yang dapat menjadi faktor penghambat kegiatan pengendalian hama penyakit  dan juga harus mengetahui dan paham terhadap-faktor faktor apa saja yang dapat mendukung keberhasilan kegiatan pengendalian hama penyakit, terutama yang disebabkan oleh jamur Ganoderma.

Kondisi lingkungan sekitar tanaman akan sangat berpengaruh terhadap kondisi kesehatan tanaman. Beberapa hasil laporan temuan di beberapa perkebunan kelapa sawit dan juga beberapa hasil penelitian menggambarkan tentang kondisi lingkungan yang menjadi pencetus munculnya berbagai penyakit di perkebunan, terutama di perkebunan kelapa sawit. Salah satu persoalan  utama yang kini tengah dihadapi oleh perkebunan kelapa sawit di Indonesia dan di Malaysia adalah penyakit busuk pangkal batang yang disebabkan oleh jamur  Ganoderma boninense. Penyakit ini merupakan “mimpi buruk ”bagi kalangan praktisi perkebunan kelapa sawit,karena dapat menyebabkan kematian kelapa sawit dan dampak yang ditimbulkan adalah kerugian yang sangat besar, sebab  sulit dikendalikan  hal ini terkait dengan  sifat penularannya melalui tanah, angin dan serangga vektor.  

Ganoderma adalah cendawan patogenik tular tanah (soil borne) yang banyak ditemukan di hutan-hutan primer dan menyerang berbagai jenis tanaman hutan. Cendawan ini dapat bertahan di dalam tanah dalam jangka waktu yang lama. Sesungguhnya Ganoderma tergolong pada kelompok cendawan yang lemah. Serangan pada kelapa sawit menjadi dominan karena terjadi ketidakseimbangan agroekosistem di perkebunan kelapa sawit dan tidak adanya cendawan kompetitor dalam tanah, akibat menurunnya unsur hara organik dalam tanah dan aplikasi herbisida yang tidak bijaksana.

Pemahaman yang benar mengenai dampak serangan jamur Ganoderma  terhadap produksi kelapa sawit serta antisipasi untuk meminimalkan dampak tersebut sangatlah penting untuk diketahui, sehingga tujuan dari penulisan tema ini dapat memberikan pengetahuan serta sumbang pikiran kepada pembaca majalah sawit Indonesia, khususnya insan perkebunan kelapa sawit agar dapat meningkatkan hasil produksi secara kontiniu dan dapat meminimalkan dampak serangan jamur Ganoderma terhadap produksi kelapa sawit.

IDENTIFIKASI AWAL  SERANGAN GANODERMA

Indikasi gejala awal penyakit  yang diakibatkan oleh serangan jamur ganodermna sulit dideteksi karena gejala eksternal perkembangannya yang lambat , pada tanaman kelapa sawit  masa vegetatif  (TBM), gejala penyakit busuk pangkal batang (BPB) yang dapat diamati dari luar adalah adanya daun yang menguning pada satu sisi, atau adanya bintik-bintik kuning dari daun yang lebih pendek, yang kemudian diikuti dengan nekrosis (Singh, 1991). Pada daun yang baru membuka nampak lebih pendek dibandingkan daun normal lalu mengalami klorosis dan bahkan mengalami nekrosis. Seiring waktu penyakit ini terus berkembang, warna daun tanaman kelapa sawit terlihat  pucat keseluruhan, pertumbuhan lambat dan daun tombak yang tersisa tidak membuka.

Gejala serupa juga terlihat pada fase tanaman menghasilkan (TM) , terdapat beberapa daun tombak tidak terbuka dan kanopi daun umumnya pucat. Daun yang terserang kemudian mati dimana nekrosis dimulai pada daun yang paling tua dan merambat meluas ke atas ke arah mahkota daun. Tanaman kemudian mati dimana daun kering terkulai pada ujung pelepah pada batang atau patah tulang di beberapa titik sepanjang malai, dan menggantung ke bawah seperti “rok wanita”. Umumnya apabila gejala pada daun terus diamati biasanya akan ditemukan bahwa setidaknya satu setengah bagian jaringan batang bawah telah mati diserang cendawan. Apabila tanaman belum menghasilkan terinfeksi, biasanya akan mengalami kematian dalam kurun waktu 6-24 bulan sejak munculnya gejala pertama, sedangkan pada tanaman kelapa sawit menghasilkan kematian terjadi antara 2-3 tahun kemudian setelah infeksi.

Pada awalnya, penyakit Ganoderma diduga menyerang tanaman menghasilkan saja dan secara ekonomi tidak merugikan, dengan kejadian penyakit masih biwah ambang toleransi yaitu<1%, akan tetapi, beberapa tahun terakhir ini penyakit Ganoderma telah menjadi satu masalah yang paling serius terutama pada satu atau lebih dari 2 generasi tanam. Pada Saat ini Ganoderma sudah bisa ditemukan hampir di semua kebun kelapa sawit di Indonesia walau kejadian penyakitnya bervariasi. Perkembangan cepat penyakit ini tidak hanya di lahan mineral tetapi juga di lahan gambut. Pada tanah yang miskin unsur hara di laporkan kejadian penyakit Ganoderma lebih besar.

 

Ragam Pengendalian Ganoderma

Pengendalian Ganoderma dilakukan dengan tiga tahap yaitu :

  1. Pengendalian secara internal,
  2. Pengendalian secara eksternal.
  3. Pengendalian terpadu.

Pengendalian internal

Dengan semakin berkembangnya teknologi dan ilmu-ilmu terapan terutama di bidang rekayasa genetika telah dihasilkan beberapa hasil penelitian yang mampu mengatasi persoalan serangan jamur ganoderma. Beberapa produsen kecambah Kelapa sawit bahkan sudah meluncurkan beberapa varietas kecambah yang tahan terhadap serangan penyakit yang disebabkan oleh jamur Ganoderma. Artinya titik fokusnya adalah pada internal tanamannya yang diharapkan adalah dihasilkan bibit kelapa sawit yang ditanam bebas dari inokulum Ganoderma dan  mampu menghadapi serang jamur ganoderma. 

Pengendalian eksternal

Menurut Dr.Darmono Tani Wiryono, Pakar Ganoderma Biotek Perkebunan, sesungguhnya yang “sakit” adalah lahan pertanaman sehingga meskipun bibit kelapa sawit yang ditanam bebas dari inokulum Ganoderma namun bila ditanam pada areal yang sudah terinfeksi Ganoderma dalam kualitas dan kuantitas yang tinggi maka tanaman tersebut akan terserang juga.Sanitasi tanaman terinfeksi dilakukan melalui pemusnahan inokulum dengan cara membongkar tanah memusnahkan tunggul-tunggul,  dan akar tanaman terinfeksi serta membakarnya. Melakukan chiping dengan ketebalan 10 cm pada saat replanting. Pembuatan parit isolasi untuk tanaman yang terinfeksi pada populasi infeksi masih rendah.
Bahan Tanaman Toleran, ada indikasi bahwa bahan tanaman varietas dura menunjukkan gejala yang lebih lambat daripada bahan tanaman varietas tenera.

Pengendalian terpadu

Berdasarkan hasil-hasil penelitian yang telah dilakukan Prof. Meity S. Sinaga, Guru Besar Fitophatologist IPB, strategi pengendalian penyakit BPB Ganoderma yang paling baik adalah dengan melakukan pengendalian terpadu yang merupakan kombinasi dari pengendalian hayati, pembuatan parit isolasi tanaman terinfeksi, pemusnahan sumber inokulum. Adapun pengendalian hayati yang dimaksud adalah dengan menggunakan jamur yang tidak bersifat patogen bagi tanaman namun mampu melawan jamur patogen yang membahayakan tanaman. Saat ini beberapa produk untuk mengatasi jamur ganoderma dengan menggunakan pengendalian hayati masih sangat jarang, namun umumnya jamur yang digunakan untuk melawan jamur  ganoderma antara lain adalah Glicadium dan Tricorderma. Glicadium dapat menyebabkan kematian jamur patogen  dan kehancuran karena mengeluarkan sekresi atau zat antibiotic seperti gliovirin dan viridian yang bersifat fungistatik (mematikan) jamur. Gliovirin merupakan senyawa yang menghambat/mematikan pertumbuhan beberapa jamur dan bakteri, sedang viridin dapat menghambat/mematikan pertumbuhan jamur.

Oleh  : Eko Zulkifli SP, Msc